Tampilkan postingan dengan label Bode Riswandi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bode Riswandi. Tampilkan semua postingan

Puisi Bode Riswandi


Letupan-letupan

Ada yang luput kucium dari tubuhmu;
Sisa bising kendaraan dan jejak para pejalan
Mereka jadi embun yang nempel di daun
Jadi kerikil yang terlempar dari alam lain

Ada yang luput kusapu dari tubuhmu;
Bulir keringat dan letupan-letupan isyarat
Mereka tumbuh jadi bahasa tanpa tabiat
Walau seteru kita berjalan kian hebat

Ada yang luput kubelai dari tubuhmu;
Semacam rambut serta pekat kabut
Tubuhku terlempar jauh jadi musyafir
Yang tak cukup nyali masuki hutan tafsir

Ada yang luput kubasuh dari tubuhmu;
Luka dan debu kota yang menggaris di lehermu
Pintu-pintu toko terkatup, jentik embun meletup
Dan sepi membiarkan dirimu sejenak hidup

Ketika tak ada lagi yang luput dari perburuan;
Aku cukup memandangmu dalam remang
Merasakan sunyi yang pecah ke dinding dan tiang
Menanti jejak mencekik lehermu lebih tak karuan

Ketika tak ada lagi yang luput dari perburuan;
Aku telah cukup nyali merambah hutan tafsir
Dirimu akan tinggal sendirian, atau tubuhku
Yang diburu bergantian

2009

Pernyataan

Jika dunia ini begitu cepat berputar, katamu
Aku mampu membenarkan ucapanmu
Kuhitung angka-angka yang melekat di usia
Kucabut seratus uban yang tumbuh di kepala
Aku ajak bicara segala mimpi yang membuat
Diri serasa muda. Semuanya selalu berujung
Di warna senja

Jika senja sering disekap penyair muda
Dalam puisi cinta juga balada, katamu
Aku mampu membuktikan pernyataan itu
Tanpa nafsu atau syahwat yang menggebu
Sebab aku bukanlah penyair yang mati muda
Yang mengharap hidup seribu tahun lamanya
Ketika tangis jadi bahasa yang sulit diterka

Aku adalah seseorang yang tak boleh lelah
Mencium aroma lekuk tubuhmu dan menanti
Pernyataan baru dari mulutmu. Jika malam
Yang sampai di ranjang jadi debu karena ditempa
Sungai eranganmu, seketika itu kau dan aku
Jadi orang lain dengan kecemasan masing-masing
Menunggu antara Gembira atau putus asakah
Yang selalu datang dengan tergesa

2009

search

About

Seluk Beluk Sastra