AHMADUN YOSI HERFANDA

Penulis yang banyak melahirkan puisi dan esai. Selain itu ia bergelut dalam dunia pers. Ia dilahirkan di Kaliwungu Kedal,Jawa Tengah, 17 Januari 1956. Pendidikan terakhir Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FKSS FKIP Yogya (tamat 1986). Pernah menjadi Ketua Studi Sastra IKIP Yogya (1981-1982),pemimpin redaksi bulletin IKIP Yogya Warstra.pemimpin redaksi bulleti HMI Intra,wartawan harian Kedaulatan Rakyat, Yogya (1984-1989), Wartawan Yogya Post (1989-1992) dan kini menjadi wartawan Republika,Jakarta (sejak 1993),sejumlah sajak puisnya dimuat dalam antologi Penyair Yogya Tiga Generasi (1981), Pagar-pagar (1984),Prasasti (1984),Tanah Persinggahan (1985), Tonggak 4 (1987), Resonansi Indonesia (KSI, 2000), Graffiti Gratitude (YMS-Angkasa, 2001). Kumpula) sajaknya: Sang Matahari (1984,bersama Ragil Suarna Pragolapati), Ladang Hijau (1980), Sajak Perani (1991), dan Sembahyang Rumputan (1996). Kumpulan Cerpennya: Sebelum Tertawa Dilarang (1997).

AFORISME

Dalam bahasa Inggris disebut aphorism dan dalam bahasa Perancis aphorisme. Maksud istilah ini adalah pernyataan yang padat dan ringkas tentang suatu sikap hidup atau tentang suatu kebenaran umum. Peribahasa seperti '' Alah bisa karena biasa '' mempunyai ciri afforisme.

AFFECTIVE FALLACY

Dari istilah bahasa Inggris yang berarti salah nalar atau sesaat fikir dalai menilai karya sastra,yakni dengan mendasarkan penilaian itu pada pengaruh emosional karya itu terhadap pembaca; suatu pengeliruan antara karya itu sendiri dan apa yang diakibatkan olehnya. Misalnya penilaian suatu karya sastra oleh suatu pihak yang mengakibatkan karya tersebut dilarang beredar.

Aferesis

Dari istilah latin aphaeresis, petumenggalan huruf awal atau suku kata awal kata. Misalnya, "tirta marta'' untuk ''tirta amarta'', ''kan'', untuk  ''akan''

Afektasi

Dari istilah Inggris affectation. Maksud istilah ini ialah tingkah laku atau tindak tanduk yang dibuat-buatuntuk menimbulkan kesan tertentu pada orang lain yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam cerita rekaan atau drama.

AD LIBITUM

Dari istilah Latin yang berarti 'seenaknya', 'mana suka' . Bentuk kependakannya ad lib. Menjadi istilah drama yang merunjuk kepada gerak atau ucapan yang dilakukan secara spontan oleh pameran(tidak tertera dalam naskah).



AD-LIB

Istilah yang berasal dari bahasa Latin adlib. Maksudnya adalah penambahan (misalnya,inprovisasi) kata-kata dan gerak dalam suatu pementesan; berasal dari bahsa latin,ad-libitum 'dengan senang hati '. Lihat AD LIBITUM.

Addendum

Dari istilah latin dan perancis disebut addition. Tambahan atau sesuatu yang ditambahkan;misalnya apendiks yang ada pada buku. Bentuk jamaknya,addenda. Istilah lain: lampiran dan tambahan.

Adaptasi

Berasal dari istilah bahasa Inggris adaptation. (1) Pengolahan kembali suatu karya sastra ke dalam bahasa lain dengan menyesuaikan unsur-unsurnya pada lingkungan budaya bahasa sasaran itu. Misalnya Si bachil karya Nur Sutan Iskandar adalah adaptasi karya Moliere L'avare: (2) Pengolahan kembali suatu karya sastra dari suatu jenis ke jenis lain dengan mempertahankan lakuan,tokoh,serta gaya dan nada aslinya. Misalnya, Novel ditulis kembali menjadi drama. Istilah lain dari adaptasi ialah saduran.

Abstraksi

Istilah ini berasal dari bahasa Inggris abstraction. Maksud istilah ini adalah ringkasan atau intisari suatu karangan atau tulisan. Di samping itu, dapat pula diartikan sebagai suatu metode atau cara untuk memperoleh pengertian melalui seleksi terhadap gejala atau peristiwa sehingga menunjukkan sebab akibat atau pengertian umum.

Abstrak

Istilah ini berasal dari bahasa Inggris abstract,yang artinya sifat tak nyata. maksudnya adalah sifat atau pengertian umum yang diangkat atau dipisahkan dari sesuatu yang nyata atau berwujud fisik. Misalnya, keindahan, kemiskinan, dan lain-lain.

Adagium

Ungkapan tradisional yang diterima sebagai suatu kebenaran. Contoh: ''orang sabar kekasih Allah.'' Adagium ada hubungannya dengan istilah lain yang menyatakan suatu kebenaran umum seperti aforisme.maksim,pepatah,dan peribahasa. Di dalam teks-teks sastra khusunya fiksi dan drama adagium sering ditemukan dalam dialog para tokohnya.

AB OVO

Kata ini dalam bahasa Latin berarti '' mulai dari telur '' Dalam dunia sastra istilah ini digunakan untuk menggambarkan alur yang dimulai dari awal rangkaian cerita. misalnya,sebuah cerita dimulai dengan masa kecil tokoh,meningkat ke masa remajanya,selanjutnya masa tuanya.

Abaian

Istilah filologi yang diambil dari bahasa Inggris,trivalization. Abaian adalah penghilangan atau pengubahan bagian naskah yang dianggap tidak berarti atau tidak dipahami oleh penyalin.

Sandiwara Hang Tuah

Dalam buku ini terhimpun 16 cerpen pilhan Taufik yang ditebitkan oleh penerbut Grasindo.  Cerpen-cerpen yang dimuat dalam buku ini pernah dimuat pada media cetak: Horison,Kompas,amanah,Suara Karya,Menyimak,Kalam,Riau Pos,Suara Pembaharuan,Sriwijaya Pos,Berina Buana, dan Majalah Kartini. Menurut penulisnya,'' kesemua cerpen dalam buku ini adalah lintasan nasib,kepedihan,dan harapan masyarakat melayu pada umumnya.''

SALJU DI PARIS

Kumpulan cerita pendek karya Sitor Situmorang. Selama ini memang ia lebih dikenal sebagai penyair, tetapi ia juga banyak menulis cerita-cerita pendek. Buku ini pertama diterbitkan tahun 1994 oleh Penerbit Grasindo. Salju Di Paris memuat 12 cerita pendek; 102 halaman. Cerpen-cerpen yang termuat di dalam kumpulan cerpen ini sebagian diambil dari kumpulan cerita pendek Pertempuran dan Salju di Paris yang pernah diterbitkan tahun 1956. Meski demikian, jangan dipandang enteng kumpulan cerpen Salju di Paris yang merupakan "pemadatan" sejumlah cerpennya yang lain. Makna simbol "Salju di Paris" terekam dalam karya ini. Adakah melambangkan kelembutan, ataukah sebaliknya, badai?

AGAM WISPI

Penulis ini dilahirkan di Pangkalan Susu Sumatera Utara tanggal 31 Desember 1930 dan meninggal di  Amsterdam di sebuah verpleghuis (rumah jompo), Belanda tanggal 1 Januari 2003.
      Agam Wispi pernah menjadi wartawan harian pendorong (1952) di Medan. Tahun 1957, Agam pindah ke Jakarta dan bekerja sebagai redaktur budaya Harian Rakyat. Pada bulan Mei 1965, Agam ke Vietnam untuk meliput perang. Ia sempat mewawacarai Ho Chi Minh. Selanmujutnya ia berkelana ke Cina. Pada saat peristiwa G 30 S, Ia sedang di Cina. Ia sempat lima tahun di karantina (diipenjara) di Tiongkok Selatan. Dari Cina ia ke Moskwa, Jerman Timur, dan sejak 1988menetap di Amsterdam sampai akhir hayatnya. Ia tidak pernah menetap lagi ke tanah airnya. Ia memang pernah pulang, tahun 1999dan 2000 ia berkunjung, ke tanah airnya lagi, setelah sekian tahun berkelana di luar negeri.
      Kumpulan sajaknya yang pernah terbit adalah Matinya Seorang Petani (1955), Di Negeri Orang, Puisi Penyair Indonesia Eksil (Antologi puisi, 2002). Beberapa penyair seperti Asahan Alham, Nurdiana, Chalik Hamid, dan Sobron Aidit memuat puisinya dan antalogi ini.

TIRAI MENURUN

Novel karya Nh. Dini, diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, tahun 1993. Novel ini disusun seperti adegan-adegan pertunjukkan wayang orang, yang menyuguhkan babak demi babak kehidupan empat tokohnya: Kedasih, Kintel, Sumirat, dan Wardoyo. Novel ini menggunakan teknik penceritaan orang ketiga, pengarang menempatkan dirinya sebagai orang yang serba tahu dan mampu mengisahkan rahasia batin yang paling dalam dari tokoh-tokohnya. Penggunaan teknik penceritaan ini menjadi menarik apabila dibandingkan dengan novel-novel Nh. Dini sebelumnya yang hampir selalu menggunakan teknik penceritaan akuan (orang pertama).
      Pemaparan dimulai ketika Republik Indonesia Serikat baru kembali menjadi negara kesatuan. Arus pendatang memasuki Semarang dari segala penjuru. Berasal dari empat desa. Tokoh-tokoh kisah ini bertemu di kota. Pada siang hari mereka hidup menurut jalan yang digariskan nasib sebagai rakyat jelata yang papa, dibebani selaksa kebutuhan tak terpenuhi. Di waktu malam, bermandikan sinar listrik dan pantulannya yang gemerlapan pada ribuan perada serta manik-manik, mereka menjelma menjadi puteri dan pangeran kerajaan yang cantik dan tampan, resi atau pertapa yang bijak berilmu tinggi, raja agung adikuasa, bahkan sebagai dewa dewi atau binatang gaib yang tak terbatas kesaktiannya.
      Mereka hidup dalam kungkungan dua dunia: nyata dan impian. Akan tetapi, itulah dunia yang mereka pilih dengan kerelaan yang tulus. Sang dalang berhak mengatur serta merangkai alur cerita dan peristiwa di pentas. Tanpa sadar, di panggung kehidupan ia terjerat oleh rangkaiannya sendiri. Namun, dialah yang mengakhiri pertujukkan. Dia sempat menancapkan gunungan di tengah-tengah layar.

CINDUR MATA

Cindur Mata adalah roman karya H. Aman Dt. Majoindo yang diterbitkan oleh Balai Pustaka Tahun 1951. Cerita ini didasarkan dari cerita rakyat yang hidup ditengah-tengah masyarakat Minangkabau. Di Minangkabau cerita ini dinamakan Kaba Cindue Mato dan sangat dikenal oleh lapisan penduduk Minangkabau. Mereka menganggap bahwa cerita ini mengandung hikmah dan kebenaran. Tokoh-tokoh cerita ini adalah Bunda Kandung; raja perempuan yang memerintah Minangkabau; Sutan Rumandung atau Dang Tuanku, Putera Bunda Kandung; Kambang Bendahari, ibu Cindur Mata; Cindur Mata, orang kepercayaan Bunda Kandung; Raja Jenang, ayah Puti Bungsu; Puti Bungsu, istri Dang Tuanku; Tiang Bungkuk, ayah Imbang Jaya; Imbang Jaya, raja yang akan ditunangkan dengan puti Raja Muda; Puti Lindung Bulan, ibu Puri Bungsu dan Puti Reno Bulan; Puti Janit Jintan, adik Imbang Jaya; Puti Reno Bulan, adik Puti Bungsu; Sutan Lembang Alam, putra Cindur Mata dari pernikahannya dengan Puti Reno Bulan, yang kemudian bergelar Sutan Amiru'llah; Puti  Lembak Tuah, adik Sutan Amiru'llah.
      Bunda Kandung adalah raja perempuan yang memerintah Minangkabau. Ia memiliki putera yang bergelar Dang Tuanku. Dang Tuanku telah dinobatkan menjadi raja, sehingga Bunda Kandung hanya penasihat kerajaan.
      Bunda Kandung menyuryh Dang Tuanku membicarakan perjodohan Cindur Mata dengan Putri Lenggo Geni. Perundingan ini agar dirahasiakan. Jika ditolak, mereka tidak mendapat malu. Ia memerintahkan anaknya mengajak Cindur Mata dan beberapa pelayan, yaitu Barakar, Baruiin, dan Tambani, serta membawa seekor ayam kinantan sambungan. 
      Dalam perjalanan menuju Sungai Tarab itu, rakyat terkagum-kagum dengan penampilan mereka yang gemerlapan. Mereka berlomba-lomba melihat rombongan itu. Kemudian, datanglah seorang menteri tua menyuruh seorang utusan untuk memberitahukan Datuk Bandahara akan kedatangan raja mereka. Mendengar kedatangan rombongan raja itu. Datuk Bendahara segera mengadakan pesta penyambutan yang sangat meriah.
      Dang Tuanku menceritakan maksud kedatangannya untuk menjodohkan Cindur Mata dengan Putri Lenggo Geni. Datuk Bendahara mengabulkan permintaan itu. Sebagai tanda pertunangan, Dang Tuanku menyerahkan rencong tatah permata buatan Agam Mandiangin. Datuk Bandahara memberi cincin permata akik.
      Dang Tuanku dan Datuk Bandahara esoknya menyambung ayam di gelanggang. Ketika Cindur Mata berjalan-jalan di pasar, ia bertemu pedagang yang menjual ayam sambungannya. Dari pedagang itu, Cindur Mata menjelaskan bahwa di negerinya akan diadakan pesta pernikahan Tuanku Imbang Jaya dan Upik Puti Bungsu. Sebenarnya, Puti Bungsu telah bertunangan dengan Dang Tuanku. Namun, tersiar bahwa Dang Tuanku menderita penyakit yang menjijikkan sehingga ia dibuang dari Pagaruyung. Tuanku Raja Muda memutuskan untuk menikahkan putrinya dengan Imbang Jaya. Untuk menjaga segala kemungkinan, Tuanku Imbang Jaya membayar orang-orang sebagai penyamun di Bukit Tambun-tulang untuk menyamun orang-orang yang datang dari Barat. Mendengar itu, Cindur Mata marah dan langsung mengajak Dang Tuanku kembali ke negerinya. Datuk Bandahara dan orang-orang menjadi bingung. 
      Bunda Kandung marah besar kepada Raja Muda setelah mendengar cerita itu. Ia bahkan ingin menyerang kerajaan Raja Muda. Sekalipun Dang Tuanku dan Cindur Mata berusaha mengingatkannya bahwa peperangan itu akan menghabiskan persediaan emas dan perak Istana, ia tidak peduli.
      Dang Tuanku menyarankan kepada Bunda Kandung untuk memerintahkan Cindur Mata berkunjung ke Sikelawi. Ia ditemani oleh Binuang (kerbau besar seperti gajah), Gumarang (kuda yang larinya sangat cepat), membawa beras secupak, sirih pinang lengkap pertanda putih hati dan muka yang jernih. Tugas yang diembun Cindur Mata ke Sungai Ngiang itu sangat berat. Sebelum pergi, Dang Tuanku berpesan untuk menemui Puti Bungsu dan menceritakan bahwa ia dalam keadaan baik. Ia juga memerintahkan untuk menjemput sang putri. Jika sang putri tidak mau, ia sendiri yang akan menjemputnya.
      Sesampai di bukit Tambun Tulang ia mendapat firasat akan bahaya yang mengancam karena banyak penyamun yang akan menghadang perjalanannya. Mereka bukan menyamun karena harta, bukan pula karena dendam, melainkan nyawa.
      Gerombolan penyamun itu dipimpin oleh Datuk Gempa Cina, Datuk Biduri Sakti Datuk Rendang Kacang, Datuk Gerak Gasing, dan Mancit Pelejang Antah, dan masih banyak lagi. Cindur Mata menantang pimpinan gerombolan penyamun tanpa gentar. Dengan kesaktiannya, ia berhasil membunuh para penyamun. Karena jumlah mereka sangat banyak, Cindur Mata kewalahan. Binuang datang membantu dengan menyeruduk gerombolan itu sehingga mereka lari kocar-kacir dan menyerah.
       Cindur Mata terus berjalan menuju Sungai Ngiang. Ia berhenti di tepian sungai milik Putri Janit Jintan yang dilarang untuk dimasuki. Karena tidak tahu larangan itu, Cindur Mata membiarkan si binuang minum air sungai itu dan berkubang didalamnya sehingga air sungai menjadi sangat keruh. Putri Janit Jintan menyuruh hulubalangnya menangkap Cindur Mata. Pertarungan diantara mereka pun tidak dapat dihindari.
      Salah seorang hulubalang itu melaporkan kejadian itu kepada Raja Imbang Jaya. Raja Imbang Jaya mengizinkan Cindur Mata melanjutkan perjalanan.
      Cindur Mata sampai di ranah Sikelawi. Semua menteri dan balatentara dipanggil oleh Raja Muda untuk menyambut kedatangan Cindur Mata. Cindur Mata menjelaskan maksud kedatangannya dan menyampaikan titah Bunda Kandung untuk memberikan cendera mata dari Pagaruyung.
      Raja Muda meminta Cindur Mata tetap di istananya, sedangkan ia akan pergi ke Pagaruyung menengok kemenakan dan kakak kandungnya. Cindur Mata menahan keinginan Raja Muda.
      Persiapan pesta pernikahan Puti Bungsu dengan Imbang Jaya terus berjalan. Dengan suatu muslihat Cindur Mata dapat bertemu dengan Puti Bungsu. Cindur Mata menyampaikan pesan dari Dang Tuanku. Jika hal ini terjadi, maka perang saudara tidak dapat dihindari, Dang Tuanku akan menjemput paksa Puti Bungsu.
      Mereka mengatur rencana untuk melarikan diri. Setelah acara perjamuan makan, Raja Muda menyuruh Cindur Mata, pejabat-pejabat penting, menteri untuk menjemput mempelai pria dengan berbagai sambutan yang meriah. Setelah itu tejadi hal-hal yang gaib, sehingga Cindur Mata dapat menculik Puti Bungsu. Cindur Mata membawa Puti Bungsu ke Pagaruyung.
      Mengetahui kedatangan Cindur Mata seorang diri, Bunda Kandung mengumpulkan Besar Empat Balai, Tuan Kadi, beserta seluruh rakyat meminta penjelasan dari Cindur Mata. Di mata orang-orang Pagaruyung tindakan Cindur Mata dianggap salah. Cindur Mata menjelaskan bahwa ia menitipkan Putri Bungsu di istana Tuan Kadi. Bunda Kandung mengajak Kembang Bendahari, Kembang Bungcina, dan dayang-dayang istana untuk menjemput Puti Bungsu. Semua menurutinya, kecuali Dang Tuanku dan Cindur Mata. Ketika bertemu dengan Puti Bungsu, Bunda Kandung tidak dapat menahan air matanya. Ia memeluk kemenakkannya.
      Sementara itu, semua orang termasuk Tuan Kadi, Besar Empat Balai, dan Raja Dua Sila-orang terakhir yang dapat memutuskan suatu perkara-tidak dapat memutuskan hukuman yang tepat bagi Cindur Mata. Semuanya menyerahkan permasalahan itu kepada Dang Tuanku. Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya Dang Tuanku berkata, "Jika orang tua Puti Bungsu datang karena rindu kepada anaknya dan hendak membawa puterinya kembali, kita antarkanlah beramai-ramai sampai ke ranah Sikewali. Namun, jika Imbang Jaya yang datang kemari, jangan menyerahkan Putri Bungsu kepadanya karena belum tentu sang putri menyukainya. Jika kedatangan mereka bermaksud mengajak berperang, maka Bunda Kandung harus mempersiapkan segalanya. Jalan yang terbaik saat ini adalah mengirim Putri Bungsu dan Cindur Mata ke Indrapura. Jika Imbang Jaya datang kemari, ia tidak dapat menemui keduanya."
      Permasalahan itu pun selesailah sudah. kini mereka mempersiapkan pesta pernikahan antara Cindur Mata dengan Puti Lenggo Geni dan pernikaha Dang Tuanku dengan Puti Bungsu. Pada petang Kamis malam Jumat, kedua pasangan itu dinikahkan. Dang Tuanku dan Puti Bungsu ti nggal di dalam kampung Kota Dalam, diatas anjuenggo Geni pulang ke Sungaitarab.
      Sementara itu, Imbang Jaya yang kehilangan tunangannya sangat marah. Ia bermaksud menyerang Pagaruyung yang telah menculik tunangannya. Putri Ranit Jintan mengusulkan agar mereka membakar Pagaruyung dengan cermin api besar. Ia menyuruh beberapa orang pergi ke Pagaruyung dan menjalankan rencananya. mereka mengarahkan cermin itu ke segala penjuru, sehingga rumah-rumah kecil di sekitar negeri Pagaruyung terbakar.
      Kobaran apinya terlihat oleh Dang Tuanku. Ia mengambil cermin terus dan mengarahkan cermin itu ke kobaran api. Ia melihat banyak orang berkumpul di Batupatah sedangkan mengarahkan cermin besar. Ia memerintahkan Cindur Mata menumpas mereka. Cindur Mata menghunus pedang jenawi dan membawa si binuang untuk menumpas musuh. Perang itu dimenangkan oleh Cindur Mata.
      Mendengar kekalahan pasukannya, Imbang Jaya sangat marah. Ia mengerahkan pasukannya menyerang Pagaruyung. Pertarungan pun berlangsung sengit. Imbang Jaya tewas terbelah dua oleh Raja Dua Sila. Melihat rajanya mati, pasukan Imbang Jaya menyerah. Raja Tiang Bungkuk-ayah Imbang Jaya-sangat marah mendengar kematian anaknya. Ia bermaksud ntuk menghadapi Tiang Bungkuk, Cindur Mata akan menghadapinya secara langsung tanpa melibatkan raja Dua Sila dan Besar Empat BAlai.
      Suatu malam, Dang Tuanku bermimpi bahwa ia, Bunda Kandung, dan Putri Bungsu diperintahkan untuk meninggalkan dunia ini. Pada saat Tiang Bungkuk datang, dari langit akan turun sebuah perahu-perahu Nabi Nuh- yang akan membawa mereka. Ketiganya yidak akan dikuburkan di Pagaruyung melainkan di tanah suci. Mendengar mimpi Dang Tuanku, Bunda Kandung menangis dan menitahkan seluruh rakyat untuk berkumpul. Ia kemudian menobatkan Cindur Mata sebagai Raja Pagaruyung, dengan gelar Raja Muda. 
      Takala mendengar kedatangan Tiang Bungkuk, Cindur Mata yang telah bergelar Raja Muda, segera bersiap untuk menyambutnya. Keduanya bertemu dan saling menyerang. Dengan segenap kemampuannya, keduanya berusaha saling menyerang, mereka sama-sama kuat. Semua orang yang menyaksikan pertarungan itu berdebar-debar karena tidak ada tanda-tanda kekalahan pada salah satu diantara mereka hingga pertarngan keduanya pun dihentikan. Namun, dengan kecerdikan Cindur Mata, ia dapat mengelabui Tiang Bungkuk. Ia berhasil menikam Tiang Bungkuk berulang kali, hingga Tiang Bungkuk jatuh roboh. Sebelum meninggal, Tiang Bungkuk berpesan kepada Cindur Mata agar ia menjaga negeri Sungingiang dan menyerahkan putrinya, Ranit Jintan.
      Cindur Mata diangkat menjadi raja Sungaingiang dan ranah Sikelewi. Ia kemudian menikah dengan Puti Retno Bulan, adik kandung Puti Bungsu, anak Puti Lindung Bulan. Tiga musim setelah pernikahannya dengan Puti Retno Bulan, lahirlah Sutan Lembang Alam, yang kemudian bergelar Sutan Amiru'llah. Tiga musim kemudian, lahirlah adik dari Sutan Amiru'llah yang bernama Puti Lembak Tuah. Selanjutnya Sutan Amiru'llah dinobatkan sebagai raja untuk menggantikan ayahnya.
      Akhirnya, Cindur Mata pulang ke Pagaruyung. Cindur Mata memerintah Minangkabau dan taklukannya. Cindur Mata yang bergelar tuanku Raja Muda memerintah secara bijaksana. Pada masa ini rakyat makmur dan negeri aman.

CALA IBI

Cala Ibi adalah novel karya Nukila Amal yang diterbitkan oleh Pena Klasik tahun 2003. Novel ini masuk nominasi lima besar dalam pemilihan Khatulistiwa Literaly Award (KLA) 2003.
      Kalimat-kalimat dalam novel ini penuh metafor. Seperti tarian yang tangkas dan bernas hingga kalimat-kalimatnya itu menjelma menjadi rangkaian aforisma. Indah, tapi mungkin sulit dimengerti. Tidak hanya kalimat-kalimatnya yang pendek yang membuat orang membutuhkan kesabaran untuk membacanya. Juga penggunaan metafor yang luar biasa, bertaburan dimana-mana, yang sekaligus berfungsi sebagai imaji yang liar.
      Menurut penulisnya, Cala Ibi itu idiom lokal Ternate yang artinya adalah sepesies burung, yang biasa kita kenal dengan burung gereja. Akan tetapi, Cala Ibi suaranya lebih merdu dan badannya lebih kecil. Cala Ibi bukan hanya sebuah novel yang memperkarakan hakikat nama, peristiwa dan cerita, maya dan nyata, diri dan ilusi, tapi juga memperkarakan kodrat kata dan bahasa itu sendiri. Kendati tiap bagian novel itu seperti cerita utuh tersendiri, sebuah alur tertentu bisa juga dikenali. Novel ini memang bisa dilihat sebagai cerita tentang apa saja. Tapi ada alur menonjol dari awal hingga akhir tentang semacam perjalanan Oddisey mencari hakikat diri, pencarian diri seorang yang bernama Maya lewat pigur kembarannya dalam mimpi, Maia. Pencarian yang bermula dari peristiwa surealistik saat cermin-cermin kaca berpecahan, saat citra dan bayangan diri berantakan, dihancurkan oleh malam.

search

About

Seluk Beluk Sastra